Save Forest



People and Nature
CAN Borneo mengajak orang-orang yang tinggal di sekitar kawasan hutan untuk meningkatkan sterilitas desa dalam melaksanakan rencana pembangunan dan mengelola sumber daya alam, termasuk upaya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, melalui pendekatan kearifan lokal di mana CAN Borneo secara langsung melibatkan masyarakat di sekitar hutan untuk menyelamatkan hutan. People and Nature adalah program pendekatan yang dikembangkan untuk orang-orang yang tinggal didalam dan di sekitar hutan untuk meningkatkan kekuatan warga dalam bentuk pengetahuan, kapasitas, jejaring sosial dan pengalaman, sebagai landasan utama dalam mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan dan untuk kesejahteraan mereka sendiri. .

Bentuk bantuan masyarakat yang dilakukan oleh CAN Borneo melalui People and Nature adalah dalam bentuk program pelatihan, bantuan dalam mengatur lahan, mengembangkan rencana pembangunan desa, mengembangkan sumber mata pencaharian yang tidak merusak hutan, dan mendapatkan hak pengelolaan hutan.

CAN Borneo invites people living around forest areas to increase village sterility in implementing development plans and managing natural resources, including efforts to reduce greenhouse gas emissions, through a local wisdom approach where CAN Borneo directly involves communities around the forest to save the forest. People and Nature is an approach program developed for people living in and around the forest to increase the strength of citizens in the form of knowledge, capacity, social networking and experience, as the main foundation in managing natural resources sustainably and for their own welfare.

The form of community assistance carried out by CAN Borneo through People and Nature is in the form of training programs, assistance in managing land, developing village development plans, developing sources of livelihood that do not damage the forest, and obtain forest management rights.



Restoration and Agroforestry
Restorasi dan Agroforestri adalah upaya untuk memulihkan elemen biologis (flora dan fauna) dan non-biologis (tanah, iklim, topografi). Agroforestri dapat menghasilkan biofarmasi (obat-obatan) dan bioenergi, penyerap karbon, ekowisata dan sains, hingga layanan lingkungan. Menciptakan hasil hutan non-kayu seperti; madu, jernang, rotan, bambu, getah, dan buah-buahan. Kegiatan ini melibatkan banyak komunitas secara langsung, mulai dari pembebasan lahan, pembibitan hingga penanaman dan pemeliharaan tanaman.

Restoration and Agroforestry are efforts to restore biological (flora and fauna) and non-biological elements (soil, climate, topography). Agroforestry can produce biopharmaceuticals (medicines) and bioenergy, carbon sinks, ecotourism and science, to environmental services. Creating non-timber forest products such as; honey, jernang, rattan, bamboo, sap, and fruits. This activity involves many communities directly, ranging from land acquisition, nurseries to planting and maintenance of plants.


Melalui kegiatan agroforestry diharapkan dapat meningkatkan mata pencaharian masyarakat hutan melalui pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan dan mendukung pemanfaatan lahan rendah emisi yang selaras dengan usaha perlindungan hutan, hal ini sebagai perwujudan dari kegiatan restorasi hutan kembali setelah mengalami konversi untuk lahan pertanian padi gunung. Agroforestry merupakan konsep baru dalam sebuah mekanisme restorasi dimana masyarakat didorong untuk menanam jenis tanaman buah yang berasal dari hutan hutan tropis, dengan harapan tumbuhan ini dapat menghasilkan buah yang dapat panen hasilnya oleh masyarakat secara musiman. Agroforestry ini tidak menggunakan mekanisme satu jenis buah,dalam proyek ini setidaknya ada lebih dari 5 jenis yang diwajibkan dalam sebuah lahan milik masyarakat sehingga setiap musim yang berbuah. Hasil hutan berupa madu dan rotan  memang masih menjadi primadona namun tidak setiap tahun dapat menghasilkan sehingga agroforestry menjadi jawaban baru dari mekanisme konservasi win-win soluntion bersama masyarakat agar hutan tetap lestari. Proyek ini akan mendorong setiap warga memiliki 2 hektar per kepala keluarga untuk memiliki lahan agroforestry sehingga dalam satu kampung Merasa setidaknya ketika proyek ini berakhir ada kurang lebih  594 hektar lahan yang berhasil dihijaukan kembali melalui skema agroforestry.

Through agroforestry activities, it is expected to improve the livelihoods of forest communities through sustainable management of natural resources and support the use of low-emission land in harmony with forest protection efforts, this is an embodiment of forest restoration activities again after undergoing conversion to mountain rice farming. Agroforestry is a new concept in a restoration mechanism whereby communities are encouraged to plant fruit species from tropical forest forests, hoping that these plants can produce fruit that can be harvested by the community seasonally. This agroforestry does not use the mechanism of one type of fruit, in this project there are at least more than 5 species that are required in a community-owned land so that each season bears fruit. Forest products in the form of honey and rattan are indeed still excellent, but not every year can produce so that agroforestry becomes a new answer from the win-win soluntion conservation mechanism with the community so that forests remain sustainable. The project will encourage every citizen to have 2 hectares per household to own agroforestry land so that in one village Merasa at least when the project ends there are approximately 400 hectares of land that has been successfully reforested through an agroforestry scheme.


Kegiatan Agroforestry juga diharapkan mampu mengurangi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan, mencapai pengurangan emisi gas rumah kaca yang bermakna dan mendukung konservasi keanekaragaman hayati di tingkat kabupaten sebagai wujud dukungan terhadap Program Karbon Hutan Berau (PKHB). Dimana kami meyakini bahwa kampung Merasa mampu turut andil dalam penyelamatan hutan dan mendukung upaya-upaya skema pengurangan konversi hutan. Serta diharapkan mampu mengurangi kegiatan pembakaran hutan sebagai dampak dari pembersihan lahan yang dilakukan selama ini, hal ini akan selaras dengan program BPBD Kabupaten Berau dan Provinsi Kalimantan Timur serta Kementerian Kehutanan RI dalam rangka mengurangai kerusakan hutan akibat kebakaran.


Agroforestry activities are also expected to be able to reduce emissions from deforestation and forest degradation, achieve meaningful greenhouse gas emission reductions and support biodiversity conservation at the district level as a form of support for the Berau Forest Carbon Program (PKHB). Where we believe that the village of Merasa is able to contribute to saving the forest and supporting efforts to reduce forest conversion schemes. As well as being expected to reduce forest burning activities as a result of land clearing carried out so far, this will be in line with the BPBD program in Berau Regency and East Kalimantan Province and the Indonesian Ministry of Forestry in order to reduce forest damage caused by fires.